Salam!

Memahami Cina! Inilah pekerjaan para mahasiswa Program Studi Cina, FIB, Universitas Indonesia. Lamanya satu semester, dari September sampai Desember 2008. Kalau anda kebetulan ada di sini, anda kami undang ikut berjuang bersama kami untuk memahami Cina, sebuah negara dengan dinamika yang sedemikian tinggi. Silahkan masuk dan berkeliling, anda pasti tidak akan kecewa.

Saturday, September 20, 2008

Yang Terlempar dalam Pasar: Buruh



Pertemuan IV

Begitu komune dibubarkan pada awal tahun 1980-an, terjadilah surplus tenaga kerja di pedesaan. Memang di pedesaan petani masih menggarap lahan mereka, juga mengerjakan perusahaan desa (xiang-zhen qiye), namun jelas juga bahwa tidak semuanya terserap. Satu per satu mereka meninggalkan pedesaaan pergi ke kota-kota, besar maupun kecil. Mula-mula hanya pada saat tidak menanam, kemudian untuk jangka panjang mereka meninggalkan rumah dan desa mereka.

Para petani yang pindah ke kota ini bisa memilih, bekerja di perusahaan swasta asing atau di perusahaan swasta domestik. Perusahaan milik negara masih mempertahankan buruh yang ada, walaupun makin lama makin banyak yang melepaskan buruh mereka yang dianggap tidak produktif. Para pencari kerja yang semuanya mantan petani ini pada umumnya masuk dalam perusahaan-perusahaan manufaktur, sebagian besar di sektor TFT. Tapi cukup banyak pula yang masuk dalam konstruksi (gedung, jalan raya, jembatan, dsb.).

Dari bekerja di kota itu, mereka mendapatkan penghasilan yang dibawanya kembali ke desa. Model ini tentu saja sangat menggiurkan bagi banyak petani. Dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, sejumlah besar petani meninggalkan sawah mereka. Mereka pergi ke kota untuk, dalam istilah sehari-hari mereka, da gong! Mula-mula yang muda dan laki-laki, kemudian juga yang perempuan.

Bagaimana dengan hukou? Sejak tahun 1950-an Pemerintah Cina menerapkan sistem kontrol tempat tinggal yang disebut hukou, sedemikian rupa sehingga mereka yang mengantongi hukou petani tidak diijinkan pergi ke kota, juga tidak tinggal menetap di kota. Peraturan ini dijalankan dengan amat ketat sepanjang masa pemerintahan Mao Zedong. Namun seiring dengan bubarnya komune, dan seiring dengan melimpahnya tenaga kerja di pedesaan, aturan hukou pun dilanggar. Pada dasarnya tidak mungkin mempertahankan hukou secara ketat ketika terjadi gelombang besar urbanisasi seperti itu. Dinding pertahanan hukou pun jebol! Diperkirakan sekitar 200 juta tenaga kerja mengalir ke wilayah perkotaan. Walaupun tidak dinyatakan batal secara resmi, peraturan tentang hukou diam-diam telah ditiadakan atau dimodifikasikan.

Dari sudut ini para petani dapat dikatakan telah mengalahkan negara! Tetapi kemenangan atas negara ini tiba-tiba terasa hambar karena para petani itu segera terperangkap masuk dalam "pasar." Ketika mereka masih hidup dalam komune, mereka tidak perlu mencari kerja, dan tidak perlu bersaing dalam mencari kerja. Setelah mereka sendiri terjun dalam "pasar tenaga kerja," baru mereka menyadari bahwa mencari kerja itu tidak mudah. Tidak setiap tempat kerja akan menyambut mereka. Seandainya pun mereka menemukan tempat kerja, mereka segera menemukan bahwa gaji mereka tidak sama dengan teman-teman mereka. Ada yang bergaji tinggi, ada yang bergaji rendah. Mereka harus mengadakan tawar-menawar dengan sang calon majikan.

Proses tawar-menawar inilah yang bisa berjalan pendek dan sederhana, tapi juga bisa berjalan panjang dan melelahkan. Ketika yang terjadi adalah yang kedua, para petani itu menjadi tidak sabar. Mereka pun biasanya menyerah, dan setuju dengan bayaran yang rendah. Maklum, di Cina pada waktu itu belumlah dikenal sistem "upah minimum." Pasar tenaga kerja benar-benar bekerja menurut hukum penawaran dan permintaan. Seperti yang terjadi di Inggris pada Abad XIX, para pekerja pada umumnya tidak memiliki posisi tawar yang tinggi. Misalnya, keterampilan (skill). Dengan bekal pendidikan yang ala kadarnya (SD, maksimum SMP), para pencari kerja itu menjadi unskilled labour yang tidak bisa menerima gaji yang tinggi.

Seperti di tempat lain di dunia, para pencari kerja dari pedesaan rentan menjadi korban pemerasan. Mereka dipaksa bekerja selama lebih dari delapan jam, bisa sampai 14 jam tanpa berhenti. Banyak di antara mereka yang harus bekerja di tempat yang sempit, pengap, dan kotor. Merekapun menjadi korban penipuan. Banyak sekali kisah bagaimana para pekerja itu tidak menerima gaji mereka selama tiga bulan, bahkan enam bulan. Bahkan ada juga kasus perusahaan yang mengontrak mereka menghilang. Ini bisa terjadi dalam proyek pembangunan jalan raya. Dalam keadaan seperti ini, para pekerja ini dibuat tak berkutik. Ketika mereka melapor, polisi biasanya akan menanyakan status hukou mereka. Begitu diketahui bahwa mereka bukan pemegang hukou kota, polisi pun tidak mau ambil pusing.

Untuk mengatasi tekanan ini, para pencari kerja ini cenderung untuk berkelompok sesuai dengan daerah asal mereka. Maka di sekitar kota besar (Beijing, Guangzhou, Shanghai), muncul kantong-kantong hunian atas dasar desa asal. Jadi, ada Zhejiang cun, Henan cun, Hubei cun, dsb. Di situ para pekerja dapat berbicara bahasa daerah mereka, menikmati masakan daerah mreka, dan lebih penting saling memberi dukungan moral di saat-saat sulit. Kantong-kantong ini bertebaran di luar kota, yang dikelolah oleh mereka sendiri. Pemerintah Kota tidak ikut campur dalam urusan mereka. Di satu pihak, hal ini menguntungkan mereka, tapi di lain pihak, hal ini membawa konsekuensi yang amat berat. Yang paling gawat adalah soal perawatan kesehatan. Tanpa hukou kota mereka tidak mungkin mendapat pelayanan kesehatan di kota.

No comments: