Salam!

Memahami Cina! Inilah pekerjaan para mahasiswa Program Studi Cina, FIB, Universitas Indonesia. Lamanya satu semester, dari September sampai Desember 2008. Kalau anda kebetulan ada di sini, anda kami undang ikut berjuang bersama kami untuk memahami Cina, sebuah negara dengan dinamika yang sedemikian tinggi. Silahkan masuk dan berkeliling, anda pasti tidak akan kecewa.

Monday, September 8, 2008

Negara mundur, pasar masuk

Pertemuan II

Selama kurang lebih 30 tahun, negara adalah aktor terpenting di Cina. Segala sesuatu diatur oleh negara, dari lahir sampai mati. Dari soal sandang, pangan, hingga papan. Bahkan juga soal apa yang boleh dipikirkan atau yang tidak boleh dipikirkan! Negara memang mahakuasa. Orang pada waktu itu tidak ada yang memikirkan bahwa negara akan lenyap ataupun akan berkurang kekuasaannya. Tapi itulah yang terjadi mulai dari tahun 1978.

Dalam peristiwa bersejarah, Sidang Pleno III, Komite Sentral XI, Desember 1978, angin reformasi di Cina berhembus, perlahan-lahan tetapi pasti. Artinya, negara perlahan-lahan mengundurkan diri, dan membiarkan pasar bertumbuh besar. Ini paling kentara di pedesaan ketika komune satu per satu bubar, dan petani boleh menanam sesuai dengan keinginannya sendiri lalu menjualnya di pasar. Pasar menentukan harga hasil bumi petani, bukan negara. Ini sebuah perkembangan yang luar-biasa pada waktu itu. Penduduk Cina yang mayoritas ada di pedesaan merayakan hal ini dengan penuh antusiasme. Perkembangan ini merembet ke perkotaan, muncul aktivitas ekonomi keluarga. Mulai dari restoran, salon kecantikan, bengkel sepeda, sampai ke toko kelontong, yang semuanya bukan milik negara. Mereka ini digolongkan "pengusaha swasta."

Demikianlah pasar telah menerobos masuk dalam masyarakat Cina, mulai dari desa sampai ke perkotaan. Sangat menarik bahwa dalam perubahan ini negara terus-menerus memberi ruang dan kesempatan bagi perkembangan pasar. Harga barang yang semula ditetapkan oleh negara, perlahan-lahan ditentukan oleh pasar. Begitu pula harga jasa. Ketika ini telah meluas, pasar tenaga kerja juga menyusul. Siapapun boleh menjual tenaga kerja, dan berapa gaji yang akan diterima ditentukan oleh si penjual tenaga kerja dan pembelinya. Hal ini dengan cepat menyebabkan munculnya para pencari kerja baik di desa maupun di kota. Pabrik-pabrik di kota memang masih milik negara, dan para buruhnya adalah buruh tetap. Ketika terjadi reformasi di pabrik-pabrik itu - dalam hal manajemen - para buruh di situ juga mengalami imbasnya. Buruh bisa dipecat jika tidak bekerja dengan baik!

Negara semakin mengecil, dan pasar semakin meluas. Seiring dengan perubahan ini, tentu saja uang memainkan peran penting. Di masa Mao uang memang dipakai, tetapi orang tidak memerlukan uang untuk barang-barang kebutuhan pokok yang sudah disediakan oleh negara. Uang, bagi banyak orang pada waktu, tidak diperlukan. Namun, begitu ekonomi pasar diterapkan, uang pun menjadi penting dan semakin penting. Pada akhirnya, semangat mencari uang juga timbul dan menguat. Uang dicari tidak hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan, tetapi juga untuk investasi. Ketika kebutuhan akan investasi makin membesar, kebutuhan akan uang juga meningkat. Uang yang semula tidak dihiraukan, kini menjadi tatapan mata setiap orang Cina.

No comments: