Salam!

Memahami Cina! Inilah pekerjaan para mahasiswa Program Studi Cina, FIB, Universitas Indonesia. Lamanya satu semester, dari September sampai Desember 2008. Kalau anda kebetulan ada di sini, anda kami undang ikut berjuang bersama kami untuk memahami Cina, sebuah negara dengan dinamika yang sedemikian tinggi. Silahkan masuk dan berkeliling, anda pasti tidak akan kecewa.

Monday, September 8, 2008

PENGANTAR

Negara, Masyarakat, dan Pasar

Telaah yang memakai kerangka "negara dan masyarakat" sudah ada sejak ribuan tahun yang silam, mungkin dapat dilacak sejak masa Aristoteles. Negara memang dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi negara sering melakukan penindasan terhadap masyarakat. Bahkan muncul negara-negara yang menindas rakyatnya tanpa ampun. Para filsuf mencoba untuk menjelaskan mengapa terjadi hal yang seperti ini. Thomas Hobbes dapat dikatakan filsuf yang paling berhasil menjelaskan hakekat negara. Katanya, negara itu diperlukan oleh masyarakat karena masyarakat berada dalam keadaan kalut dan kacau, sehingga "manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya." Negara dibutuhkan untuk membawa ketertiban dan keamanan. Negara itu diumpamakan dengan "Leviathan," sebuah makhluk mitis yang ada dalam lautan. Tentu saja teori Hobbes ini dapat diselewengkan oleh para diktator. Teori Leviathan ini dikoreksi oleh filusf berikutnya, yaitu John Locke. Dia berpendapat bahwa kekuasaan negara haruslah dibatasi. Siapa yang berani membatasi kekuasaan negara? Tentu saja rakyat. Locke mengusulkan sebuah kekuasaan negara yang dibatasi oleh konstitusi, dan konstitusi disusun oleh rakyat.

Apa yang dikatakan oleh Locke ini merupakan awal penting dari munculnya teori demokrasi modern. Negara diperlukan oleh manusia, tetapi negara juga harus dibatasi kekuasaannya. Hubungan negara dan masyarakat seperti ini tentu saja masih tetap tidak stabil karena tetap saja pihak penguasa (negara) dapat merongrong masyarakat sehingga dihasilkan konstitusi yang merugikan masyarakat. Hal ini kita lihat hingga hari ini bagaimana banyak peraturan dibengkokkan demi kepentingan penguasa dan pengusaha. Negara-negara yang dikuasi oleh kaum borjuasi, pasti tidak akan membiarkan dirinya dikendalikan oleh rakyat yang terdiri dari kaum proletar miskin. Karl Marx paling gencar mengungkapkan hal ini, bahkan mengusulkan penggulingan negara, dan menciptakan masyarakat tanpa negara.

Demikianlah debat tentang hubungan negara dan masyarkat terus berlanjut hingga hari ini. Pada abad ke-20 debat ini malah semakin sengit ketika muncul negara fasis di Jerman, Italia dan Jepang, lalu negara totaliter di Rusia dan Cina. Dunia seakan-akan tidak akan pernah sadar bahwa negara dan masyarakat tidak semestinya terlibat dalam konflik seperti itu. Masyarakat tidak bisa hidup tanpa negara, tetapi bukan negara yang sewenang-wenang. Bagaimana menciptakan negara seperti ini? Adakah di dunia pada abad ini yang diisi oleh negara-negara yang tidak menindas masyarakatnya?

Belum selesai debat dan diskusi, muncul masalah lain, yaitu bangkitnya "pasar." Pasar adalah istilah untuk menggambarkan kegiatan transaksi ekonomi, yang memakai sistem hukum pasar (penawaran dan permintaan). Kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi diatur oleh pasar. Nah, kegiatan ini sudah sejak abad ke-18 dikatakan tidak boleh dicampuri oleh negara. Seorang bernama Adam Smith dengan bersemangat menganjurkan "invisible hand"atau pasar sebagai koordinasi kegiatan ekonomi. Dengan demikian pasar makin lama makin terlepas dari negara, dan menjadi otonom. Negara dalam banyak hal berterima kasih kepada pasar karena pasar mendukung negara, terutama dalam hal kebutuhan finansial.

Ketika pasar makin otonom, makin terasa oleh masyarakat bahwa pasar juga bisa menjadi kekuatan penindas yang tidak kalah kejam dibandingkan negara. Paling terasakan oleh buruh, yang menjual tenaga kerjanya. Para pemilik modal hanya tahu bagaimana menarik keuntungan sebesar-besarnya dari tenaga buruh yang sudah dibelinya! Ini berlaku tidak hanya bagi "blue collar" tetapi juga "white collar," semuanya diperas oleh majikan. Pada jaman sekarang, para majikan malah tidak mau berurusan dengan buruh, dan hanya mau berurusan dengan "pengantara" sehingga muncul sistem outsourcing yang lebih kejam lagi. Bukan hanya pasar tenaga kerja yang memiliki sistem eksploitatif, juga pasar keuangan. Naik-turunnya mata uang telah menjadi permainan spekulan, yang pada gilirannya menyebabkan nilai mata uang yang tidak stabil. Korban dari semua ini adalah masyarakat yang tiba-tiba menemukan uang tabungannya merosot dan berkurang.

Demikianlah, kita temukan "negara," "masyarakat," dan "pasar." Interaksi dari tiga entitas ini lebih menarik daripada hanya terarah kepada "negara" dan "masyarakat." Kerangka analisis seperti ini membuat cara pandang kita lebih lengkap, lebih seimbang dan tentu saja lebih dinamis. Kalau terlalu terfokus pada "negara" dan "masyarakat," akan dapat diseimpulkan bahwa masalahnya ada pada negara semata. Lupa bahwa pasar juga bisa menjadi sumber masalah. Dengan melepaskan "dikotomi" dan menerima "trikotomi" diskusi kita akan lebih bermanfaat.

Apalagi ketika kita akan membuat analisis tentang Cina, sebuah negara yang baru 30 tahun yang lalu terlepas dari otoritarianisme. Terbebasnya masyarakat dari negara tentu saja harus diterima dengan gembira, tetapi ini tidak berarti bahwa masyarakat dapat menikmati kebebasan yang sejati. Dengan menguatnya pasar masyarakat Cina tiba-tiba menemukan dirinya bahwa ada kekuatan lain yang tidak kalah dahsyat yang mengancam kehidupan mereka. Itulah kekuatan pasar. Ketika kekuatan pasar makin nyata, tidak cukup lagi perhatian dipusatkan pada hubungan negara dan masyarakat. Bagaimana juga melihat hubungan antara negara, masyarakat dan pasar.

Kuliah selama semester ini diarahkan untuk melihat dinamika hubungan ketiganya. Selamat memasuki semester baru.

No comments: