Salam!

Memahami Cina! Inilah pekerjaan para mahasiswa Program Studi Cina, FIB, Universitas Indonesia. Lamanya satu semester, dari September sampai Desember 2008. Kalau anda kebetulan ada di sini, anda kami undang ikut berjuang bersama kami untuk memahami Cina, sebuah negara dengan dinamika yang sedemikian tinggi. Silahkan masuk dan berkeliling, anda pasti tidak akan kecewa.

Sunday, October 12, 2008

Membela Pasar, Melawan Negara

PERTEMUAN VI

Jaman ini adalah “jaman globalisasi” yang ditandai dengan hubungan yang tak putus antar individu dan individu, entah di belahan dunia manapun. Penyebab utamanya adalah kemajuan di bidang teknologi komunikasi. Kalau pada masa sekitar 20 tahun yang lalu, hubungan antar individu paling cepat dihubungkan lewat mesin telpon, kini hubungan itu dapat terjadi lewat berbagai macam moda. Tiga yang menonjol adalah facsimile, e-mail, SMS.
Cina dan masyarakatnya tidaklah terluput dari kemajuan ini. Telpon dan telegram telah dikenal di Cina sejak seratus tahun yang lain. Telpon wireless dengan cepat memasuki Cina dan menjadi alat komunikasi populer. Tentu saja ini diikuti dengan pemakaian ‘SMS’ (duanxin) secara meluas. Terakhir kemajuan di bidang internet. Baru pada tahun 1995 Cina memasuki moda komunikasi paling mutakhir. Pada waktu itu hanya ada 3000 orang di Cina yang mempunyai akses ke internet, dalam waktu empat bulan, Juli 1995, jumlah itu telah mencapai 40.000! Sepuluh tahun kemudian angka ini telah mencapai 500 kali lipat.
Popularitas internet di Cina yang mengagumkan ini tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan akan komunikasi di kalangan masyarakat sendiri. Internet menawarkan berbagai macam kemudahan untuk berkomunikasi menarik masyarakat Cina, terutama orang muda (di bawah 40). Lewat internet mereka dapat berkomunikasi satu sama lain di dalam negeri dan sekaligus juga dengan mereka yang di luar negeri. Kecuali itu, lewat internet pula – World Wide Web – mereka dapat menemukan informasi dalam jumlah yang tak terbatas. Yang terakhir ini tentu saja merupakan hal yang amat vital bagi para pelaku bisnis.
Di Cina Internet Café berkembangan sangat pesat. Mula-mula muncul di Beijing pada tahun 1996, Internet Café muncul di berbagai kota besar maupun kecil di seluruh Cina. Menurut laporan, pada akhir 1998, hanya sekitar 3 persen pemakai internet pergi ke Internet Café. Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga menjadi seperenam dari netter di seluruh Cina. Di Beijing sendiri pada tahun 2004 tercatat lebih dari 2400 Internet Café. (Zhou, 139)
Kebutuhan meningkat akan internet ini segera ditangkap oleh para pelaku bisnis. Perusahaan telekomunikasi dengan cepat mengadakan investasi dan berlomba-lomba untuk mendapatkan pelanggan. Misalnya, China Telecom menawarkan cara gampang untuk mendapatkan akses internet. “Cukup telpon 163” begitu pesannya. Setiap orang dapat log on ke Internet dengan menelpon 163, lalu menggunakan 163 sebagai username maupun password. Biaya akan muncul bersama tagihan telpon bulanan. Konon Cina adalah tempat paling gampang di dunia untuk mendapatkan Internet.
Dengan demikian muncullah hubungan yang saling menguntungkan antara masyarakat dan pelaku bisnis. Di Cina benar-benar terjadi boom di bidang telekomunikasi. Yang menarik adalah bahwa ledakan ini itdak terlepas dari usaha Pemerintah sendiri untuk memacu perkembangan di bidang TI. Dengan ijin Pemerintah usaha mengembangkan teknologi informasi ini sudah dirintis sejak tahun 1986, makin lama makin maju dan makin maju. Pemerintah bahkan memberikan dana untuk mengembangkan infrastruktur, dan juga perangkat hukumnya. Cina memang nampak amat bergairah dalam mengembangkan TI ini.
Namun, pada waktu yang bersamaan, juga jelas bahwa Pemerintah Cina menjadi “ancaman” bagi para pengguna Internet. Demi alasan “keamanan” Pemerintah Cina menjalankan kontrol atas Internet. Maka sering terjadi penutupan Internet Café yang dianggap telah melanggar peraturan dan undang-undang. Yang lebih menakutkan lagi adalah kontrol atas aliran dalam internet dengan memblokir situs-situs atau pesan-pesan yang dianggap membahayakan kemanan negara. Kata “demokrasi,” “hak-hak asasi manusia,” dan “Falungong,” yang termuat dalam situs atau e-mail, pasti akan tersaring.
Yang langsung terkena imbas dari kebijakan ini adalah kaum intelektual yang membicarakan pokok-pokok tersebut. Internet merupakan space yang sangat cocok bagi intelektual untuk mendiskusikan banyak pokok sehubungan dengan keadaan negara, baik dengan sesama intelektual di dalam Cina maupun mereka yang di luar Cina. Hal ini terasa semakin mendesak ketika media cetak di Cina seluruhnya ada dalam kontrol Pemerintah. Lewat internet itu saja para intelektual di Cina dapat menemukan kebebasannya untuk berpendapat. Namun, dengan kontrol ketat atas Internet, mereka juga kehilangan ruang kebebasan ini.
Dalam hal ini nampak bahwa masyarakat merasa tertindas oleh negara. Meski demikian “pasar” juga tidak dapat menolong masyarakat untuk menemukan kebebasannya itu. Persaingan antar provider, umpamanya, semestinya dapat menimbulkan mekanisme kontrolsendiri. Hal ini tidak terjadi sebab provider – juga yang berstatus MNC – malah tunduk kepada regulasi negara. Persaingan malah terjadi sejauh mana mereka bisa “merayu” negara.

No comments: