Salam!

Memahami Cina! Inilah pekerjaan para mahasiswa Program Studi Cina, FIB, Universitas Indonesia. Lamanya satu semester, dari September sampai Desember 2008. Kalau anda kebetulan ada di sini, anda kami undang ikut berjuang bersama kami untuk memahami Cina, sebuah negara dengan dinamika yang sedemikian tinggi. Silahkan masuk dan berkeliling, anda pasti tidak akan kecewa.

Saturday, October 4, 2008

Hidup dalam Masyarakat Pasar

Dipakainya sistem pasar sebenarnya hanya dimaksud untuk memperlancar perekonomian. Dengan sistem pasar para pengusaha akan senang dan konsumen akan bahagia karena mereka semua diuntungkan. Secara keseluruhan, seluruh negeri akan makmur dan sejahtera. Namun ada satu hal yang dilupakan, yaitu dampak dari sistem pasar pada kehidupan individu. Sistem pasar pada prinsipnya diletakkan atas dasar uang. Segala sesuatu bisa diperoleh siapapun asalkan dia mempunyai uang.
Dari sini orang dengan mudah menarik konsekuensi lain, yaitu mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan barang-barang yang dia kehendaki. Di satu pihak, hal ini menimbulkan semangat orang untuk bekerja, bahkan bekerja keras. Uang yang diperoleh sebagai gaji atau bonus merupakan “insentif” baginya untuk bekerja giat. Di lain pihak, keinginan untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya ini juga menimbulkan berbagai perilaku a-sosial, termasuk korupsi.
Namun yang lebih sering disoroti oleh para sosiolog adalah gejala yang disebut “komodifikasi” yaitu menjadikan segala sesuatu menjadi komoditas atau barang jualan. Sebelum munculnya sistem pasar, hanya sebagian kecil barang saja yang dijadikan komoditas. Sebagian besar barang yang lain dapat diperoleh tanpa membayar, secara cuma-cuma, atas dasar hubungan kekerabatan atau hubungan persahabatan, bahkan hubungan hidup bersama sebagai satu suku. (Karl Polanyi) Karenanya orang tidak terlalu pusing memikirkan uang, kalau dia memerlukan sebuah barang atau memerlukan bantuan.
Sistem pasar mengubah semuanya itu. Karena uang hanya diperoleh lewat jual-beli komoditas, maka orang berpikir keras bagaimana mengubah apa yang ada pada dirinya menjadi komoditas. Dengan kata lain, segala sesuatu “ada harganya.” Hal ini menyebabkan banyak barang yang pada masa lampau dapat “diminta” begitu saja, kini harus dibayar dengan uang. Tidak ada lagi “minta” dari sahabat atau tetangga, semua harus pakai uang. Bantuan tenaga yang dulu begitu mudah diberikan kepada tetangga, sekarang harus dibayar dengan uang. Ada sebuah pepatah dalam bahasa Inggris yang terkenal: “There is no free lunch.”
Pada akhirnya, sistem pasar dengan uang itu mengubah hubungan antar individu dalam masyarakat. Setiap individu menjadi pedagang, dan setiap individu menjadi pembeli! Hilanglah semangat bantu-membantu, gotong-royong, juga semangat solidaritas. Orang cenderung untuk “menghitung” berapa ongkos yang telah dia keluarkan, atau berapa biaya yang harus dia bayarkan. Malah lebih kejam lagi, semua adalah pesaing atau kompetitor. Setiap orang melihat orang lain sebagai kompetitor yang bisa merebut kesempatan bagi dirinya.
Negara tentu saja tidak punya peran dalam semua hiruk-pikuk individu. Tetapi negara tentu saja punya sumbangan bagi terciptanya suasana seperti ini. Ketika negara melepaskan segala kebutuhan masyarakat kepada kekuatan pasar, maka negara benar-benar seperti mencampakkan individu ke tengah lautan persaingan yang kejam. Di masa lampau, ketika negara masih berperan sebagai pembagi benefit masyarakat, negara setidak-tidaknya membangun semangat solider satu sama lain. Di Cina semangat seperti ini sangat ditekankan oleh Mao Zedong dengan seruannya agar orang berani “mengorbankan diri.” Seorang tokoh yang disanjung-sanjung pada waktu itu adalah Lei Feng.
Dengan dimulainya “reformasi” sejak 30 tahun yang lalu, negara Cina benar-benar telah melemparkan warganegaranya ke pasar. Mereka harus berjuang dalam suasana persaingan yang ditandai dengan uang. Cina sekarang memang sedang berubah menjadi “masyarakat pasar” (market society), persis 180 derajat bertentangan dengan yang terjadi pada masa sebelumnya.

No comments: